Sisi Lain Ramadhan

Bulan Seribu Bulan Ahlanwassahlan…..
Subhanallah…tidak terasa kini sudah berada di pintu gerbang bulan yang selalu dirindukan oleh segenap umat Islam, yakni bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang lebih baik dan memiliki keutamaan seribu bulan atas bulan yang lain. Bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.
Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat dinanti oleh kaum muslim di berbagai belahan dunia. Pada bulan ini muslim-muslim di berbagai belahan dunia hiruk pikuk untuk menyambut datangnya bulan yang penuh ampnan ini, tidak perlu jauh-jauh kita dapat melihat femomena-fenomena penyikapan terhadap bulan ramadhan di Indonesia, seluruh masyrakat berbondong-bondong untuk senantiasa mendapatkan rahmat dariNya, tak ayal waktu demi waktu dipergunakan untuk semata-mata beribadah kepadanya karena bulan Ramadhan merupakan penghulu (sayyidusysyuhur) dari seluruh bulan dalam satu tahun, dan banyak pula keutamaan-keutamaan pada bulan ini (ramadhan). Demikian banyaknya keutamaan dan peluang untuk berubah di hadapan Allah SWT di bulan Ramadhan ini hingga bulan Ramadhan sering dikiaskan dengan perumpamaan Tamu Agung yang istimewa. Perumpamaan dan keistimewaan itu tidak saja menunjukkan kesakralannya dibandingkan dengan bulan lain. Namun, mengandung suatu pengertian yang lebih nyata pada aspek penting adanya peluang bagi pendidikan manusia secara lahir dan batin untuk meningkatkan kualitas ruhani maupun jasmaninya seoanjang hidupnya.
Pada bulan berkah ini, suasana diluar dan terutama didalam diri kita(suasana batin) rasanya sangat mendukung peningkatan mutu keimanan, keberagaman, dan kemanusiaan kita. Kita dapat lebih mendekatkan diri kepada Al-Khaliq yang maha pengasih, pada saat seperti itu pula merupakan momentum untuk membuat jarak dengan diri kita sendiri, lalu mengadakan dialog yang sangat pribadi. Kita dapat melakukan koreksi mendetail dan lebih teliti bagi peningkatan kualitas ke khalifahaan dan sekaligus kehambaan kita, pada bulan ini pula kita sekiranya dapat lebih melihat diri kita dan berusaha mengenal lebih mengenai diri kita, pengenalan terhadap diri sendiri dirasa penting. Man ‘arfa nafsahu’arfa rabbahu. Siapa yang mengal dirinya akan akan mengenal tuhannya. (baca : Gus mus)
Akan tetapi sisi lain dari ramadhan seringkali fenomena yang sudah rutin terjadi; pasar-pasar menjadi ramai, harga-harga kebutuhan sehari-hari pun melonjak tak terkendali. Pasar kaget pun menjamur dimana-mana. Tak ketinggalan pula pengemis dadakan berkeliaran mencari rupiah. Pengemis tahu kalau bulan Ramadhan itu puncaknya rezeki mereka, sebab banyak dermawan dadakan pula. Mereka menyebar kebaikkan dengan harapan memperoleh pahala yang berlipat-lipat ganda. Sayangnya, ketika Ramadhan pergi, sifat dermawan itu juga lenyap tak berbekas. Entah mengapa?
Idealnya, Ramadhan sebagai bulan yang penuh dengan kucuran rahmat dan karunia ini dihabiskan dengan berbagai amal kebaikan. Karena, pada bulan Ramadhan, seluruh amal kebaikan akan diberi pahala yang berlipat dibandingkan pada hari-hari biasa di luar Ramadhan.

Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Semangat…. barakallah
Oleh: Fitra Riyanto, Ilmu Sejarah UNAIR 2016
REFERENSI
GusMus, 2016, Saleh Ritual Saleh Sosial, Yogyakarta: Diva Press
http://abiummi.com/assets/uploads/2015/05/Keutamaan-Puasa-Ramadhan.png

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelurusan Paradigma Sejarah Bagi Masyarakat Awam dan Peran Penting Sejarah

Ki Hadjar Dewantara: (Refleksi) Melawan Problem Kekininan.